LOCK, STOCK & TWO SMOKING BARRELS


Sutradara: Guy Ritchie | Tahun: 1998
Semua serba pertama. Maksudnya ini adalah film layar lebar pertama yang disutradarai Guy Ritchie dan menjadi debut karier film bagi dua mantan atlet kebanggaan Inggris, Vinnie Jones dan Jason Statham.

Kisah berkutat pada empat sekawan berlogat Cockney, yaitu Eddy (Nick Moran), Soap (Dexter Fletcher), Tom (Jason Flemyng) dan Bacon (Jason Statham). Si Eddy pemain kartu paling top dan bersama ketiga sahabatnya memutuskan untuk berjudi £25,000 melawan penjahat lokal, Hatchet Harry (P.H. Moriarty). Yang tidak disadari adalah Eddy ternyata dijebak lalu kalah telak dalam pertandingan kartu itu.

Sekarang mereka terbelit utang sebesar £500,000 dan mesti dilunasi dalam tempo satu minggu! Salah satu ancaman jika gagal ditebus, bar milik ayahnya Eddy akan menjadi milik Harry.

Maka geng itu berdiskusi tentang skenario perampokan paling aman yang bisa meloloskan mereka dari ancaman Hatchet Harry. Secara nggak sengaja terdengar percakapan bahwa tetangga mereka berniat melakukan pencurian besar. Berarti inilah rencana sempurna: merampok hasil curian dari tetangga sebelah rumahnya tersebut.

Idenya simpel, namun prakteknya jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan. Berbagai pihak dalam pusaran kejahatan saling terkait. Antara lain ada Big Chris (Vinnie Jones), Rory Breaker, Dog, dan Barry the Baptist, yang saling bantai demi kepentingan masing-masing. Empat sekawan tadi terjebak di tengah-tengah situasi kacau balau dan berusaha keluar serta terhindar dari kejaran polisi.


ULASAN
APA KATA ROOMEY?
Kalau nggak betul-betul diikuti, bisa tersesat karena tokohnya lumayan banyak. Tapi buat gw penikmat bahasa dengan bermacam aksen, tentu nih film kudu disimak. Medoknya dialek London bagian Timur dibumbui dengan cerita mafia jalanan yang seru, disokong para pemeran top (termasuk Sting yang jadi ayahnya Eddy)...lengkap sudah kekacauan yang layak tersaji dalam sebuah film gangster. Gaya khas Guy Ritchie terutama penggunaan slow-motion pada beberapa adegan juga bisa diserap. Untuk mempersingkat waktu, begini rangkumannya: 
Tom and Eddy eat Bacon with Soap, if you know what I mean. Oi lads...watch it !!
 
Read more

THE FALL


Sutradara: Tarsem Singh | Tahun: 2006
Lupakan sejenak EAT PRAY LOVE yang sempat digembar-gemborkan karena ada Bali. Jika mau menyaksikan dinamika tari kecak dan keindahan alam pulau Dewata, maka inilah yang pantas ditonton. Secara komersil nggak begitu terdengar, terlebih karena sifatnya sebagai karya sinema independen.
 
Tahun 1920an di RS. Los Angeles, seorang bocah perempuan berusia 5 tahun sedang menjalani masa penyembuhan lengannya yang patah. Namanya Alexandria (Catinca Untaru). Dia kemudian berteman dengan pasien lain, Roy Walker (Lee Pace), cedera akibat aksinya sebagai stuntman, sekaligus sedang patah hati karena ditinggal sang kekasih yang lebih memilih aktor utama film.

Sambil menunggu kesembuhan, Roy menceritakan beragam dongeng kepada Alexandria. Tentang Kaisar Alexander dan cerita kedua soal enam tokoh: Luigi sang ahli bom; bangsa Indian; budak pelarian; ahli pedang asal India; sekelumit kisah Charles Darwin dan petualangan Black Bandit melawan Gubernur Odious yang kejam.

Ini bukan dongeng biasa...sebab sebetulnya setiap dongeng yang diceritakan Roy mengandung karakter-karakter dari kehidupan nyata. Alexandria makin tertarik dengan penuturan Roy, hingga dia rela melakukan apa saja asal dongeng tersebut berlanjut. Termasuk mengakomodir permintaan Roy akan obat-obat berdosis tinggi di Rumah Sakit, dalam upayanya untuk bunuh diri. Batas antara kenyataan dan dunia dongeng menjadi kabur, hingga misteri tentang apa yang sebenarnya terjadi mulai terkuak.

ULASAN

APA KATA ROOMEY?
Pemanjaan sisi visual yang fantastis menjadi menu utama The Fall. Bukan hanya tari kecak dan alam Bali yang disajikan secara indah, tapi juga sejumlah tempat hebat layak kunjung di dunia. Sebab syuting film ini dilakukan pada 26 lokasi di 18 negara. Sebut saja Spanyol, Turki, Mesir, Ceko, Tunisia dan negeri elok lainnya. Jalan cerita cukup ringan, lucu dan terkadang tragis...tapi perpaduan antar-adegan di banyak tempatlah yang sungguh dahsyat.


Putusan: Dongeng bahagia-sedih dengan visualisasi amat mumpuni. Layak disaksikan siapa pun bersama siapa saja, terutama penikmat keindahan tingkat tinggi.
Read more

AND THE BAND PLAYED ON


Sutradara: Roger Spottiswoode | Tahun: 1993
Didedikasikan untuk penyandang HIV/AIDS seluruh dunia. Kemungkinan sedikit orang yang tahu keberadaan film semi-drama ini. Menceritakan tentang tahun-tahun awal munculnya epidemi mematikan di AS (Amerika Serikat) yang belakangan dikenal luas dengan virus HIV/AIDS. Berkutat seputar tiga elemen penting dari sejarah penyakit tersebut.
Dr. Don Francis (Matthew Modine) –seorang immunologis berpengalaman– bersama timnya bergabung dengan CDC (Centers for Disease Control) demi meneliti fenomena ini. Sembari berfokus pada penyebab dan pencarian obatnya, mereka harus menerima fakta bahwa pemerintah AS berusaha menutupi keberadaan virus mematikan itu, padahal penyebarannya semakin meluas. 

Bagian lain mengisahkan tentang komunitas penganut seks bebas (termasuk komunitas gay) di kota San Francisco yang mulai menyadari keberadaan virus –saat itu belum bernama– dan bimbang bagaimana menghadapinya.

Elemen terakhir dari film berdurasi lumayan panjang ini adalah soal rivalitas di bidang kedokteran antara ahli virus AS, Dr. Robert Gallo (Alan Alda) dengan ilmuwan Prancis dari institut Pasteur, Dr. Luc Montagnier (Patrick Bauchau) yang berujung pada saling-klaim sebagai pihak pertama yang mengidentifikasi virus AIDS. Parahnya, itu dilakukan hanya demi kedigdayaan pribadi agar mendapat Hadiah Nobel Kedokteran.


ULASAN
APA KATA ROOMEY?
Pengetahuan penting soal perkembangan virus HIV/AIDS di era ‘80-an yang hingga kini masih belum ada obatnya. Pemainnya cukup banyak yang terkenal, termasuk Richard Gere, Steve Martin dan Phil Collins. Tentu saja Steve Martin tidak konyol dan tidak ada lagu yang dinyanyikan Phil Collins. Patut diserap pemahaman waktu itu bahwa penularannya diduga hanya melalui hubungan seksual. Di sini dipaparkan banyak warga AS yang terjangkiti HIV/AIDS akibat transfusi darah. Perlombaan antar-ilmuwan dua negara juga terasa, bagaimana dokter sebagai manusia terkadang lebih mendahului kepuasan pribadi ketimbang mencari antivirus yang sangat krusial dibutuhkan.

Putusan: Cukup layak ditonton penggemar biopik dan yang peduli terhadap penderita HIV/AIDS.
 
Read more

KNOCKED UP


Sutradara: Judd Apatow | Tahun: 2007
Perhatikan baik-baik wajah pasangan yang tidur di samping Anda setelah mabuk-mabukan tadi malam. Karena bisa jadi dialah orangtua anak Anda, hehehe...Judd Apatow pernah membuat kita terpingkal di 40 Years Old Virgin dengan cerita yang sederhana. Dan sekarang dia kembali dengan formula seorang pria gendut, pengangguran dan doyan ganja untuk dipadukan dengan seorang pembawa berita yang cantik, tinggi, nyaris sempurna.

Pertemuan mereka di klub malamlah yang membawa malapetaka, setidaknya untuk 70 menit pertama. Kisah cinta itu berawal dari satu pertemuan tak terduga. Alison (Katherine Heigl) yang baru saja mendapatkan promosi di tempat kerjanya bertemu Ben (Seth Rogen) yang sedang kumpul bareng teman-temannya. Setelah beberapa botol minuman dirasa cukup untuk membuat suasana cihuy, mereka segera melanjutkan aktivitas di atas ranjang.

Ya, beberapa hari kemudian Alison mendapati dirinya ternyata hamil. Mungkin kalau di film lain, kita akan melihat sang bapak dengan segala kekurangannya akan terlihat panik. Tapi tidak di sini. Kita bisa menyaksikan bagaimana Ben tampak antusias saat mendengar Alison tidak ingin menggugurkan janin dalam kandungannya.

Di tengah kepercayaan Alison terhadap Ben –yang ternyata lebih cinta sama bong-nya daripada bayi dalam perut Alison– banyak hal yang belum dapat dipenuhi oleh Ben sebagai bentuk tanggung jawabnya. Ben yang tengah dilanda kebingungan setelah reaksi mushroom yang mulai bekerja, akhirnya menemukan jawaban.

Ben sempat meminta bantuan sang ayah, yang dengan gampangnya bilang "I’ve been divorced three times. Why are you asking me?” Di situlah titik baliknya. Dimulai dengan mendapat pekerjaan lalu pindah ke rumah sendiri, menyiapkan keperluan calon anaknya dan mulai membaca buku-buku panduan melahirkan.




 ULASAN
APA KATA DEKEPIKS?
Khas film-film Judd Apatow. Sebuah drama komedi –bisa disingkat jadi dramedi– dengan cerita yang amat sederhana. Kisah yang terkesan berat ini dikemas sangat baik, bahkan saat proses melahirkan yang dipenuhi perasaan tegang dan intensitas tinggi, kita masih bisa tertawa dibuatnya.

Putusan: Cukup pantas masuk sebagai salah satu drama komedi terbaik dari 2007. Pas ditonton bareng pasangan atau teman akrab.
Read more

3 IDIOTS

Sutradara: Rajkumar Hirani | Tahun: 2009

Cerita India tanpa obral tarian dan kesengsaraan. Bila ada yang sedang mencari makna antara passion dengan pendapat publik tentang bagaimana seseorang seharusnya menggapai sukses, inilah tontonan yang pas. Digambarkan menurut pandangan umum, hanya ada dua pilihan sebagai penduduk India jika mau hidupnya sukses. Kaum pria harus jadi insinyur, sementara wanita identik dengan profesi dokter.

Tiga sahabat berlatarbelakang beda dipertemukan dalam satu nasib, kuliah di jurusan teknik Imperial College of Engineering, salah satu universitas terbaik di India. Farhan Qureshi (R. Madhavan) sebetulnya ingin jadi fotografer satwa liar, tapi mengurungkan niatnya demi memuaskan harapan sang ayah. Raju Rastogi (Sharman Joshi) bertekad menaikkan status ekonomi keluarganya dari kemelaratan. Di kampus itu, keduanya bertemu dan berteman akrab dengan Rancho (Aamir Khan), seorang jenius berjiwa bebas yang nampaknya ugal-ugalan, sering protes, dan membangkang berbagai aturan.

Tentu saja cara pendekatan yang diusung Rancho dalam mempelajari ilmu membentur nilai-nilai konvensional. Musuh utamanya adalah dekan ‘kejam’, Profesor Viru Sahastrabudhhe yang dijuluki ViruS. Si dekan mencap tiga sahabat itu sebagai 3 makhluk idiot. Pertentangan diperuncing oleh mahasiswa teladan yang rela melakukan apa saja demi keuntungan pribadi, Chatur Ramalingam alias “Silencer”.

Sementara itu, Rancho jatuh cinta kepada Pia (Kareena Kapoor) yang tak lain merupakan anak perempuan Profesor ViruS yang berprofesi sebagai dokter. Satu harapan yang sepertinya mustahil terwujud. Seiring kisah berjalan, konflik semakin gencar mengalir dan mendapat konsekuensinya masing-masing. Perlahan, satu demi satu rahasia tiap tokoh utamanya juga terungkap.  
YAAR...AAL IZ WELL !!!



ULASAN

APA KATA ROOMEY?
Film India Terbaik Kedua setelah Slumdog Millionaire dari tahun 2009. Kekuatan passion amat terasa lewat drama komedi ini. Antara himpitan ekonomi, status sosial, berusaha mewujudkan mimpi tapi terbentur keinginan orangtua. Memang tetap ada adegan menari khas Bollywood, tapi masih dalam taraf kewajaran untuk ilustrasi cerita. Beberapa kejadian mustahil juga hadir, seperti ketika tiga sekawan ini membantu proses kelahiran bayi dengan vakuum cleaner dalam keadaan mati lampu. Banyak situasi yang khas kehidupan di negara dunia ketiga yang membuat kita ketawa sekaligus patut direnungkan. Intinya, terus ikuti kata hati tanpa terlalu mempedulikan pandangan orang lain.

 
Putusan: Seru, lucu, penuh makna persahabatan, inspiratif. Asik ditonton bareng teman, keluarga, atau dengan pasangan.
Read more

THE PURSUIT OF HAPPYNESS


Sutradara: Gabriele Muccino | Tahun: 2006

Pengaduk emosi tentang perjuangan tanpa henti untuk memperbaiki nasib. Tahun 1981 di kota San Francisco, bersamaan dengan sedang hebohnya permainan kubus puzzle warna-warni ala Rubik. Kisah nyata tentang seorang pria Afro-Amerika bernama Christopher Gardner (Will Smith). Dia adalah salesman Bone Density Scanner, alat pengecek tulang. Ternyata perkiraan investasi tak berjalan sesuai rencana. Teknologi lebih baru yaitu alat rontgen membuat alat itu nggak diminati lagi.

Jalan hidup Gardner berubah drastis. Dia kehilangan rumah karena tak mampu membayar cicilan, akun bank dan kreditnya pun diblokir. Yang buat keadaan lebih parah...istrinya malah kabur ke New York, meninggalkan Gardner dan anak lelakinya bernama Christopher (Jaden Smith).

Dalam keadaan terpepet, pria ini terpaksa hidup di jalanan, berpindah-pindah tempat tinggal dari motel, tempat penampungan, gereja, dan stasiun kereta bawah tanah. Meski sulit, dia tetap menghibur anaknya yang belum paham masalah pelik yang dihadapi.

Sembari terus berusaha menjual mesin pengecek tulang itu, Gardner mendapat peluang untuk menjadi broker saham di perusahaan Dean Witter. Tanpa gaji selama 6 bulan, dia rela mengikuti pelatihan bersama 20 kandidat lainnya. Dia terus berjuang demi satu kata yang tercantum dalam konstitusi Amerika Serikat, bahwa setiap orang –tanpa pandang warna kulit– mempunyai hak untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup.





ULASAN

APA KATA ROOMEY?
Mempunyai nilai lebih jika ditonton sekarang sebab satu kemustahilan sudah terwujud dalam tingkat kenegaraan AS, Obama menjadi Presiden kulit hitam pertama yang dulu pasti masuk kategori amat mustahil. Kalau biopik ALI dianggap sebagai fase pemanasan buat Will Smith untuk beralih menjadi aktor watak, maka film ini adalah laga utamanya. Suasana jiwa beserta segala emosi yang dirasakan Christopher Gardner betul-betul berhasil diterjemahkan dengan hebat, sehingga kepedihan dan perjuangan hidup tokoh itu terlihat nyata di layar. Nih film juga debut Jaden Smith yang notabene adalah anak kandung Will Smith. Mungkin beberapa tahun dari sekarang jikalau Smith junior menjadi aktor sukses, penikmat film bakal rela mencari The Pursuit of Happyness sebagai cikal bakal karier aktingnya.


Putusan: Akting memukau...membuat bergetar. Sangat layak disaksikan bersama keluarga.
 
Read more

PERSEPOLIS


Sutradara: Vincent Paronnaud & Marjane Satrapi | Tahun: 2007


Kehidupan di Iran pasca-revolusi tahun 1979, dari sudut pandang anak perempuan. Cerita digarap dari memoir penulis sekaligus sutradara film ini yang kini tinggal di Paris. Bermula saat Shah Reza Pahlavi masih berkuasa lalu terjadilah gerakan pembaharuan di negeri Persia itu. Seiring bertumbuh besar, Marji menyaksikan secara langsung pemerintahan Iran berpaham baru yang semakin menjadi tirani dan jauh dari pengharapan banyak orang pendukung revolusi.

Pembelengguan kebebasan di setiap sisi kehidupan makin kuat, termasuk pembatasan bagi perempuan untuk mencecap ilmu di sekolah, paksaan memakai jilbab, pencabutan hak untuk ikut pemilu dan nggak boleh mendengarkan musik punk-rock yang sedang kondang waktu itu.

Sikap Marji sebagai pemudi yang kritis terhadap ketidakadilan berakibat mengancam keluarganya. Maka, Marji dikirim untuk belajar di kota Wina (Austria) agar bisa menggapai masa depan yang lebih baik.

Namun nilai-nilai Barat pun ternyata menimbulkan masalah buat perempuan ini dalam menemukan jati dirinya dan terjebak antara kebebasan ala Barat dengan kultur asli negerinya Iran. Saat beberapa tahun kemudian kembali ke ibukota Teheran, Marji dewasa mendapati bahwa dia dan tanah airnya telah banyak mengalami perubahan. Marji beserta keluarganya mesti menentukan di tempat mana sebenarnya dia paling cocok menjalani hidup.



ULASAN
APA KATA ROOMEY?
Secara teknik animasi, sebetulnya film ini biasa. Hanya kartun sederhana hitam-putih, tanpa efek dahsyat membelalak mata layaknya animasi rilisan Pixar atau Dreamworks. Tapi gaya bercerita yang seperti buku harian lengkap dengan humor, kekelaman dan realita berhasil membuat penonton ikut menyelami fase-fase yang dialami Marji sebagai perempuan Iran di masa peralihan. Tema yang diangkat sejujurnya berat, namun tetap menghibur serta pesan cerita tersampaikan dengan jernih.


Putusan: Animasi simpel dengan cerita berbobot. Bukan untuk bocah, lebih sebagai suplemen pengetahuan tentang keadaan Iran dari sudut pandang berbeda.
Read more

THE TRUMAN SHOW


Sutradara: Peter Weir | Tahun: 1998
Hadir satu dekade lalu, zaman ketika reality show baru menggeliat, kalau sekarang sudah menjamur di berbagai saluran TV. Truman Burbank (Jim Carrey) adalah pria biasa yang tinggal di sebuah kota kecil yang terlihat normal. Kesehariannya datar-datar saja dengan seorang istri. Teman dan tetangganya juga bersikap normal. Segalanya berjalan teramat teratur.

Dengan segala “kenormalan” itu, Truman bosan dengan hidupnya. Dia mau menjelajah dunia dan terbebas dari rutinitas serba rapi dan tanpa kendala. Keganjilan mulai terasa ketika niatnya berlibur ke luar negeri selalu gagal akibat alasan yang mengada-ada. Hujan badai mendadak, kapal laut rusak, tiket pesawat selalu habis dan sebagainya. Truman semakin penasaran tentang keanehan yang terjadi di sekitar dan terus mencari informasi soal masa lalu dirinya.

Ternyata seluruh hidup yang dijalaninya selama ini rekayasa, kota tempat tinggalnya adalah studio raksasa dan setiap orang yang berada di sekeliling Truman adalah aktor/aktris profesional. Setiap detik hidupnya merupakan serial popular TV bertajuk The Truman Show yang disaksikan oleh jutaan penduduk dunia. Aktivitas pria ini dieksploitasi sedemikian rupa sehingga menjadi serial terkenal dengan rating sangat tinggi. Sedangkan sang penguasa pengatur hidup imitasi Truman adalah Cristof (Ed Harris), seorang produser TV ambisius yang merupakan ayah biologis Truman tapi sebetulnya tidak mengharapkan kelahirannya.

ULASAN

APA KATA ROOMEY?
Parodi satir menyindir program reality show yang penuh rekayasa. Pandangan bahwa manusia terkadang bisa berlagak seperti Tuhan sungguh tervisualisasikan dalam karya sinema rilisan akhir ’90-an ini. Kehidupan seseorang dieksploitasi sehingga menjadi tayangan yang menyedot perhatian jutaan penggemar. Gaya komikal Carrey tetap ada, tapi yang lebih terasa buat gw adalah terbersitnya kegetiran di antara adegan-adegan lucu sepanjang film. Mungkin benar kata Shakespeare: Life is a comedy to those who think, and a tragedy to those who feel !


Putusan: Lucu sekaligus ironis. Patut ditonton berulang kali, bersama siapa pun.
 
Read more

IT MIGHT GET LOUD

Sutradara: Davis Guggenheim | Tahun: 2008
Jarang ada dokumenter tentang musik yang asyik seperti ini. Dimulai dengan bertemunya tiga gitaris jago dari tiga generasi berbeda, berkumpul di satu ruangan yang mirip gudang dengan interior sederhana. Mereka adalah Jimmy Page (Led Zeppelin), The Edge (U2), dan Jack White (The White Stripes/The Raconteurs).

Seiring film bergulir, masing-masing bercerita tentang awal perkenalan dengan instrumen gitar, gaya bermain, bagaimana menciptakan tata suara alias sound unik yang menjadi ciri khas, dan sekelumit perjalanan karier band tempat mereka bernaung.

Berfokus pada sisi musikalitas ketiga gitaris asal 3 negara (Inggris, Irlandia dan AS). Menggiring penonton lebih bisa memahami revolusi sound yang mereka usung, mengunjungi lokasi-lokasi nostalgia yang membentuk tiap pribadi sebagai musisi, lalu menyaksikan diskusi langka tentang pengalaman masing-masing dalam menulis dan memainkan sederet lagu. Terakhir, penonton disuguhkan kolaborasi ketiganya lewat satu lagu energik dengan gaya yang saling menimpali secara elok.



ULASAN
APA KATA ROOMEY?
Dari ketiga gitaris yang muncul, paling kenal sama The Edge karena gw penggemar U2. Senangnya bisa lebih memahami kisah mereka dari zaman masih cupu sebagai band sekolah di Dublin. Lagu anti-perang Sunday Bloody Sunday juga dijelaskan asal mulanya. Gw tau Jimmy Page lebih karena ketenaran Led Zeppelin, meski sampai sekarang bukan penikmat musik mereka. Lucu aja lihat Jimmy Page muda masuk acara TV hitam-putih dan bisa lihat metamorfosis beliau sebagai gitaris. Sementara Jack White, setelah nonton dokumenter ini gw jadi pengen mengeksplorasi lagu-lagunya di White Stripes maupun bersama The Raconteurs
Keren dan puas. Layak ditonton terutama oleh para penggemar rock.

APA KATA DEKEPIKS?
Wowww....Gw nggak bisa main gitar, nggak terlalu ngeh sama musik Led Zeppelin dan White Stripes, cuma tau sedikit lagu-lagu U2. Tapi setelah menyaksikan kemampuan klasik ala Jimmy Page, kepandaian The Edge memunculkan bunyian ajaib, dan sisi tradisional yang serba eksperimen dari Jack White menyatu di sebuah jam session... Gw rasa nggak butuh waktu lama untuk membuat film ini menggamit predikat "lebih dari sekedar dokumenter biasa".

Putusan: Setiap musisi rasanya bakal senang menonton film ini. Enaknya disaksikan bareng teman-teman penikmat musik rock.
Read more

GREENBERG


Sutradara: Noah Baumbach | Tahun: 2010
Bercerita tentang Roger Greenberg (Ben Stiller), seorang pria berumur 40 tahun yang baru keluar dari perawatan nervous breakdown atau stres akut. Dia disuruh tinggal di rumah abangnya di L.A. (Los Angeles), selama mereka sekeluarga berlibur ke Vietnam. Yang dilakukan Greenberg sebetulnya hanya sebagai penjaga rumah, menghabiskan waktu dengan tidak melakukan kegiatan apa-apa.

Selama menjaga rumah abangnya itu, Greenberg bertemu dengan Florence (Greta Gerwig) lalu menjalin hubungan romansa yang aneh. Hampir bersamaan dengan itu, Greenberg juga berusaha mendekati lagi mantan kekasihnya semasa SMA, Beth (Jennifer Jason Leigh) tapi dia menolaknya.

Ternyata 15 tahun lalu saat masih muda, Greenberg sebetulnya pernah “nyaris” sukses meluncurkan band rock bersama sahabatnya Ivan (Rhys Ifans) tapi gagal karena secara tiba-tiba Greenberg pergi begitu saja dari L.A. Teman-teman anggota band-nya masih dongkol atas keputusannya yang berdampak pada kehidupan mereka saat ini. Greenberg menjalani hari-harinya dengan emosi yang tidak stabil dan sikapnya sungguh tidak terduga.


 ULASAN

APA KATA ROOMEY?
Sangat nggak jelas maksud film ini. Gw nggak mengerti yang mau disampaikan dan terasa membosankan. Adanya cuma sedikit lelucon, selebihnya sikap marah-marah yang ngawur. Sebagai komedi: hambar. Sementara untuk drama: biasa. Buat gw menyebalkan, cuma menghabiskan durasi sekitar 1,5 jam secara percuma. Film-film serupa jelas lebih oke, seperti Jim Carrey dalam Eternal Sunshine of the Spotless Mind atau film semi-drama Ben Stiller yang lain di tahun 2007, The Heartbreak Kid.


Putusan: Siapapun yang mengerti maksud Greenberg, tolong kasihtahu. Mungkin kami rela untuk menonton kembali. Buat sekarang, jawabannya ogah.
Read more

PULP FICTION


Sutradara: Quentin Tarantino | Tahun: 1994
16 tahun setelah tayang perdana, kesegaran film ini tidak memudar. Gaya penceritaannya memberi pengaruh pada film-film dekade ’90-an. Percampuran antara post-modern noir, humor gelap nan kasar dan budaya pop zaman itu.

Jules Winnfield (Samuel L. Jackson) dan Vincent Vega (John Travolta) adalah dua orang bayaran dengan misi mengambil koper yang dicuri dari majikan mereka, Marcellus Wallace (Ving Rhames). Si Bos juga menyuruh Vincent untuk mengajak istrinya Mia (Uma Thurman) bersenang-senang selama dirinya berbisnis ke luar kota.

Sementara itu Butch Coolidge (Bruce Willis) merupakan petinju bermasalah yang dibayar Wallace untuk “mengalah” pada pertandingan selanjutnya. Tapi dia ternyata punya misi sendiri untuk mengambil uangnya lalu kabur dari cengkraman Wallace.

Film bermula dan berakhir di tempat yang sama, yaitu saat sepasang kekasih, Honey Bunny dan Pumpkin, secara spontan berniat untuk merampok pengunjung di sebuah restoran. Jalinan cerita yang sepertinya tidak nyambung ini diracik sedemikian rupa sehingga tokoh-tokohnya terhubung lewat serangkaian kejadian.




ULASAN

APA KATA ROOMEY?
Karya fenomenal yang menjadi tempat lahirnya kembali John Travolta, setelah kejayaan era Saturday Night Fever dan Grease. Inilah film kedua (setelah Reservoir Dogs) berkarakter ala Quentin Tarantino. Penggunaan narkoba, berantem kasar, kata-kata yang awam dipakai pada obrolan sehari-hari, nongolnya sang sutradara sebagai salah seorang karakter dalam film, serta darah yang diumbar sepanjang cerita menjadi ciri khasnya. Pembagian babak dengan layar polos dan tulisan besar (seperti bab dalam buku) juga keunikan Tarantino karena itu pula yang hadir pada film-film selanjutnya termasuk Kill Bill dan Inglourious Basterds. Jurus joget ala Travolta dan Thurman dalam Pulp Fiction sempat menjadi tren muda-mudi pada pertengahan ’90-an. Adegan favorit gw adalah ketika Vincent Vega secara nggak sengaja menembak bocah di kursi belakang mobil. Itu tidak sadis, tapi konyol.


Putusan: Pas ditonton berame-rame, sambil santai dan makan BBQ.
Read more