GREENBERG


Sutradara: Noah Baumbach | Tahun: 2010
Bercerita tentang Roger Greenberg (Ben Stiller), seorang pria berumur 40 tahun yang baru keluar dari perawatan nervous breakdown atau stres akut. Dia disuruh tinggal di rumah abangnya di L.A. (Los Angeles), selama mereka sekeluarga berlibur ke Vietnam. Yang dilakukan Greenberg sebetulnya hanya sebagai penjaga rumah, menghabiskan waktu dengan tidak melakukan kegiatan apa-apa.

Selama menjaga rumah abangnya itu, Greenberg bertemu dengan Florence (Greta Gerwig) lalu menjalin hubungan romansa yang aneh. Hampir bersamaan dengan itu, Greenberg juga berusaha mendekati lagi mantan kekasihnya semasa SMA, Beth (Jennifer Jason Leigh) tapi dia menolaknya.

Ternyata 15 tahun lalu saat masih muda, Greenberg sebetulnya pernah “nyaris” sukses meluncurkan band rock bersama sahabatnya Ivan (Rhys Ifans) tapi gagal karena secara tiba-tiba Greenberg pergi begitu saja dari L.A. Teman-teman anggota band-nya masih dongkol atas keputusannya yang berdampak pada kehidupan mereka saat ini. Greenberg menjalani hari-harinya dengan emosi yang tidak stabil dan sikapnya sungguh tidak terduga.


 ULASAN

APA KATA ROOMEY?
Sangat nggak jelas maksud film ini. Gw nggak mengerti yang mau disampaikan dan terasa membosankan. Adanya cuma sedikit lelucon, selebihnya sikap marah-marah yang ngawur. Sebagai komedi: hambar. Sementara untuk drama: biasa. Buat gw menyebalkan, cuma menghabiskan durasi sekitar 1,5 jam secara percuma. Film-film serupa jelas lebih oke, seperti Jim Carrey dalam Eternal Sunshine of the Spotless Mind atau film semi-drama Ben Stiller yang lain di tahun 2007, The Heartbreak Kid.


Putusan: Siapapun yang mengerti maksud Greenberg, tolong kasihtahu. Mungkin kami rela untuk menonton kembali. Buat sekarang, jawabannya ogah.
Read more

PULP FICTION


Sutradara: Quentin Tarantino | Tahun: 1994
16 tahun setelah tayang perdana, kesegaran film ini tidak memudar. Gaya penceritaannya memberi pengaruh pada film-film dekade ’90-an. Percampuran antara post-modern noir, humor gelap nan kasar dan budaya pop zaman itu.

Jules Winnfield (Samuel L. Jackson) dan Vincent Vega (John Travolta) adalah dua orang bayaran dengan misi mengambil koper yang dicuri dari majikan mereka, Marcellus Wallace (Ving Rhames). Si Bos juga menyuruh Vincent untuk mengajak istrinya Mia (Uma Thurman) bersenang-senang selama dirinya berbisnis ke luar kota.

Sementara itu Butch Coolidge (Bruce Willis) merupakan petinju bermasalah yang dibayar Wallace untuk “mengalah” pada pertandingan selanjutnya. Tapi dia ternyata punya misi sendiri untuk mengambil uangnya lalu kabur dari cengkraman Wallace.

Film bermula dan berakhir di tempat yang sama, yaitu saat sepasang kekasih, Honey Bunny dan Pumpkin, secara spontan berniat untuk merampok pengunjung di sebuah restoran. Jalinan cerita yang sepertinya tidak nyambung ini diracik sedemikian rupa sehingga tokoh-tokohnya terhubung lewat serangkaian kejadian.




ULASAN

APA KATA ROOMEY?
Karya fenomenal yang menjadi tempat lahirnya kembali John Travolta, setelah kejayaan era Saturday Night Fever dan Grease. Inilah film kedua (setelah Reservoir Dogs) berkarakter ala Quentin Tarantino. Penggunaan narkoba, berantem kasar, kata-kata yang awam dipakai pada obrolan sehari-hari, nongolnya sang sutradara sebagai salah seorang karakter dalam film, serta darah yang diumbar sepanjang cerita menjadi ciri khasnya. Pembagian babak dengan layar polos dan tulisan besar (seperti bab dalam buku) juga keunikan Tarantino karena itu pula yang hadir pada film-film selanjutnya termasuk Kill Bill dan Inglourious Basterds. Jurus joget ala Travolta dan Thurman dalam Pulp Fiction sempat menjadi tren muda-mudi pada pertengahan ’90-an. Adegan favorit gw adalah ketika Vincent Vega secara nggak sengaja menembak bocah di kursi belakang mobil. Itu tidak sadis, tapi konyol.


Putusan: Pas ditonton berame-rame, sambil santai dan makan BBQ.
Read more

INCEPTION


Sutradara: Christopher Nolan | Tahun: 2010
Dunia mimpi selalu menjadi misteri. Saat teknologi sudah memungkinkan untuk masuk otak manusia, sebuah ide bisa dicuri dan dimanipulasi dalam alam bawah sadar seseorang. Itulah profesi yang dijalani Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) sebagai pencuri mimpi tingkat tinggi. Dia mampu merampas rahasia-rahasia paling berharga dari seorang pebisnis berkaliber top sekalipun.

Keahlian langka ini membuat Cobb menjadi tokoh penting dalam dunia spionase antar-perusahaan yang amat membutuhkan jasanya. Tapi dia juga buronan internasional paling diburu. Misi terakhir Cobb yang diberikan Saito (Ken Watanabe) berisiko tinggi. Demi merampungkannya, dia membentuk tim spesial yang terdiri dari rekan sejatinya (Joseph Gordon-Levitt), desainer mimpi (Ellen Page), jagoan menyamar (Tom Hardy), dan ahli bius (Dileep Rao). Alih-alih mencuri, mereka harus menanamkan sebuah ide –proses ini disebut inception– ke pebisnis Cillian Murphy (Robert Fischer) yang dapat mengubah satu keputusan penting dalam persaingan usaha di dunia nyata.

Namun, misi itu sangat berat untuk diselesaikan. Selain “pertahanan” alam bawah sadar yang dimiliki si empunya mimpi, ada satu musuh pribadi yang mesti diatasi sendiri oleh Dom Cobb. Suatu kejadian kelam yang berhubungan dengan sang istri (Marion Cotillard) di masa lalu, membuatnya terjebak dalam mimpi dan sulit untuk kembali ke dunia nyata.

Kehebohan visual dan konsep gila menjadi kekuatan film besutan kreator The Dark Knight ini. Bayangkan, penonton amat mungkin merasa terombang-ambing saat menelusuri dunia mimpi dengan segala konsekuensinya. Ada beberapa level alternatif yang bisa dijalani, seperti pada video game. Ironi dan aroma psikologis juga kental terasa.


ULASAN

APA KATA DEKEPIKS?
Jelas merupakan film yang tidak akan gw tonton dalam waktu dekat ini. Kayaknya penilaian tinggi yang dikasih orang sesudah menonton karya sinema ini sudah cukup bagi gw untuk mengetahui alur ceritanya tanpa perlu menonton. Itulah efek yang diciptakan sebuah film fenomenal seperti Inception. Biarpun belum pernah nonton dan nggak tau mau ngomong apa, ada baiknya kalo lo yang kasih tau gw...dimana letak kesalahan film ini.

APA KATA ROOMEY?
Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Yang pasti penulis sekaligus sutradara film ini seorang pemimpi dengan tingkat imajinasi akut. Tiap aspek mimpi divisualisasikan secara apik. Kalau nggak punya banyak waktu untuk menguras otak dalam memahami ceritanya, mending tunggu waktu yang pas. Menonton film model begini harus tenang, fokus, dan tidak bisa sambil ngobrol. Coba tonton beberapa kali untuk lebih meresapi pesan yang mau disampaikan. O iya, setelah itu cari film ringan dari genre komedi supaya otak kembali segar.

Putusan: Film kelas berat yang layak dinikmati. Salah satu karya sinema 2010 wajib tonton.
Read more

REVOLVER



Sutradara: Guy Ritchie | Tahun: 2005
Film arahan mantan suami Madonna ini memasukkan unsur teologi dalam sebuah film gangster. Bisa ditebak hasilnya menjadi berantakan. Tapi kalau suka film-film besutan Christopher Nolan, pasti kekacauan pikiran yang menarik ini bisa jadi salah satu menu tontonan sehabis makan malam mantab. Sebuah Film yang nggak akan habis dibahas, karena membiarkan para penonton untuk menerjemahkan plot sesuai pemahaman masing-masing. Untuk kemudian mendebatnya, itu silakan.

Semua diawali oleh Jake Green (Jason Statham) yang keluar dari penjara untuk membalaskan dendamnya terhadap Dorothy Macha (Ray Liotta). Tentu tidak dengan cara membunuh, tapi dengan mempermalukan Macha di meja judi casino miliknya sendiri. Dengan beragam rumus mengelabuhi yang dipelajari Green dari dua tahanan misterius, dia punya modal lebih dari cukup untuk membalas dendamnya.

Macha yang sedang melakukan perjanjian obat bius secara besar-besaran, melihat sosok Green sebagai ancaman bisnisnya. Lalu dia meminta anak buahnya untuk melenyapkan Green. Adalah Sorter (Mark Strong) yang berlaku sebagai pembunuh bayaran. Dan datanglah salah satu anggota serial The Sopranos (Vinnie Pastore) sebagai Zach dan pasangan ajaibnya Avi (Andre Benjamin) yang menawarkan perlindungan bagi Green. Melalui keputusan itulah semuanya dimulai, sesuatu yang perlahan menjadi sebuah puzzle raksasa. Green merupakan salah satu pemain yang terjebak di dalamnya.


ULASAN

APA KATA DEKEPIKS?
Banyak banget jalur cerita yang bisa muncul dari film ini. Jadi amat disarankan untuk menontonnya berkali-kali. Salah satu adegan terbaik adalah saat Sorter menggunakan indera pendengarannya untuk menargetkan musuh yang tidak terlihat olehnya dan kemahiran sang sutradara mengemasnya dalam bentuk potongan-potongan gambar menyerupai slideshow dengan sedikit zoom in-out. Satu yang gw suka dari film ini: set filmnya mempertemukan gaya Eropa, khususnya Inggris dengan Amerika. Gang-gang sempit khas New York dipadukan dengan jalan-jalan sepi nan suram khas Inggris. Wow...Guy Ritchie memang hebat soal yang satu ini. Pemilihan soundtrack pun cukup mumpuni, meski sedikit terdengar seperti musik film-filmnya Quentin Tarantino.

Putusan: Buat yang demen mikir sambil nonton film, jelas ini film yang cocok. Pesannya satu, jangan pernah nonton Revolver di rumah bareng pacar lo...
 
Read more

THE QUEEN


Sutradara: Stephen Frears | Tahun: 2006

Ada dimana saat mendengar Putri Diana wafat pada 31 Agustus 1997? Pertanyaan yang sering muncul ketika membicarakan kematian sosok dunia. Sama halnya dengan sedang apa waktu mendengar Michael Jackson meninggal atau saat berita tewasnya Kurt Cobain.

Drama garapan kerjasama sineas Inggris dan Prancis ini bukan menceritakan mengapa atau siapa yang bertanggungjawab atas kematian Putri Diana. Namun seputar reaksi anggota kerajaan Inggris terutama Sang Ratu Elizabeth II (Helen Mirren) dalam menanggapi isu sensitif tersebut. Waktu itu Diana bukan lagi termasuk anggota kerajaan, maka bendera setengah tiang pun urung dikibarkan.

Di sinilah peran Perdana Menteri Tony Blair (Michael Sheen) yang baru saja dilantik memperoleh ujian pertama. Alur cerita berfokus pada bagaimana pemerintah dan kerajaan Inggris mengatasi kematian Putri Diana. Pihak kerajaan menganggapnya sebagai urusan pribadi dan tidak boleh dimakamkan secara tradisi kerajaan. Sedangkan masyarakat yang begitu mencintai sosok Diana menuntut agar putri itu dihormati dengan layak oleh kerajaan. Ratu Elizabeth II dan Pangeran Phillip mengasingkan diri ke penginapan musim panas, Balmoral Castle.

Selama beberapa hari, tarik ulur kebijakan antara kakunya sikap kerajaan bersitegang dengan saran Tony Blair sebagai perwakilan suara rakyat Inggris. Sementara itu setiap harinya jutaan orang terus membanjiri London, berkerumun di sekitar Istana Buckingham dan Kensington. Sebagai penghormatan dan karena desakan rakyat, Pangeran Charles sebagai mantan suami Diana menjamin bahwa peti mati “Putri milik Rakyat” itu akan diselimuti bendera kerajaan.

Akhirnya pengantaran jasad Diana menuju peristirahatan terakhir menjadi momen besar pada dekade terakhir abad 20, seperti yang disaksikan di seluruh dunia termasuk oleh para pencinta Putri Diana di Indonesia.


 
 ULASAN

APA KATA ROOMEY?
Bagi saya pribadi film ini menjadi awal perkenalan dengan aktor spesialis biopik, Michael Sheen. Dengan sangat luwes dia menjelma menjadi Tony Blair di masa awal pemerintahannya. Blair terjebak dalam dilema antara harus menghormati Ratu sebagai pemimpin negara, tapi juga mesti berupaya menenangkan hati rakyat Inggris. Di sisi lain, Helen Mirren sungguh hebat memerankan Ratu Elizabeth II. Sang Ratu tampil manusiawi dengan kekuasaan besar yang tersemat padanya, tapi juga mengalami kegundahan untuk menentukan sikap tentang kematian Diana, di hadapan rakyatnya.  Membuncah satu kesimpulan: ratu Inggris juga manusia. Terkadang gengsi dan harga diri seorang penguasa pun mesti mengalah pada harapan publik, atas nama kemanusiaan.
Helen Mirren memang layak mendapat piala Oscar sebagai pemeran utama wanita terbaik dalam karya sinema ini.

APA KATA DEKEPIKS?
Sebenarnya gw kurang suka sama film model begini. Tentang kehidupan kerajaan, nggak jelas...Adalah Helen Mirren yang menjadi penyelamat, untuk memaksa gw nonton nih film. Hasilnya...terlalu bagus untuk nggak ditonton. Apalagi ada si master biopik Michael Sheen sebagai Tony Blair. Sudut pandang cerita yang bagus plus pemilihan pemain yang pas...wajar kalau dapat rating tinggi di berbagai situs film.


Putusan: Bagi yang tidak suka drama kisah nyata sebaiknya tidak usah menonton. Sebaliknya buat penggemar Putri Diana, dianjurkan menyaksikan rekaulang suasana kisruh seputar reaksi kerajaan Inggris atas kematiannya.
Read more

THE BOAT THAT ROCKED


Sutradara: Richard Curtis | Tahun: 2009
Menyiarkan lagu-lagu rock dan pop pada era '60an “haram” hukumnya di Inggris, sebab pemerintah lebih memilih musik jazz yang dianggap berkelas. Jenis musik rock n’ roll dan pop dengan segala aroma kebebasannya divonis tidak bermoral serta bisa mengancam masa depan bangsa.

Sekelompok penyiar radio menyatakan “perang” terhadap larangan itu dengan cara bersiaran dari atas kapal yang mengapung di tengah perairan internasional. Namanya Radio Rock. Mereka memutar lagu-lagu rock+pop yang sedang kondang di masa itu. Bermacam gaya khas ditebarkan para penyiar yang digandrungi banyak pendengar, terutama wanita. Ada yang bergaya flamboyan, kalem, konyol, dan seorang penyiar arogan asal Amerika.
Dikisahkan datang seorang pemuda bernama Carl (Tom Sturridge) yang baru saja dikeluarkan dari sekolah. Ia diajak ayah baptisnya, Quentin (Bill Nighy) untuk merasakan keriuhan suasana Radio Rock. 

Carl disambut dengan hangat oleh para penghuni tetap stasiun radio itu. Mereka membimbingnya untuk menjadi dewasa termasuk melibatkan narkoba, alkohol dan seks bebas. Sementara para awak bersenang-senang sembari melonjakkan popularitas, di kota London menteri Sir Alistair Dormandy (Kenneth Branagh) sibuk mencari cara ampuh untuk membubarkan stasiun radio independen tersebut.

Semuanya sah dilakukan termasuk melarang pebisnis Inggris beriklan di radio tak berlisensi itu supaya cepat bangkrut. Tindakan mbalelo para awak melawan totaliter pemerintah semakin mengancam “kedaulatan” Radio Rock. Demi menyelamatkan radio pengusung paham kebebasan itu, akhirnya para pendengar setia melakukan aksi. Mereka berpacu dengan waktu sebelum pasukan pemerintah datang menyerbu.



 ULASAN
APA KATA DEKEPIKS?
Panjangnya durasi, tampaknya menjadi salah satu alasan untuk menunda nonton film ini. Tapi siapa sih yang nggak mau berkelakuan layaknya rockstar era 1960-an? Tinggal di sebuah kapal lepas pantai, menjalankan sebuah radio dan diselingi pasokan groupies yang selalu berganti-ganti. Dengan iringan soundtrack lagu-lagu '60-an dan rumus humor ala Richard Curtis (yang juga bikin penonton ketawa di Love Actually), jelas lebih banyak alasan untuk menikmati film ini. Nuff said...

APA KATA ROOMEY?
Semangat generasi bunga sungguh terasa. Musik, fashion, pesta pora, seks bebas dan sikap anti-pemerintah terangkum dengan lengkap. Pencarian jati diri seorang pemuda yang bingung ingin mencari tahu siapa ayah biologisnya, menjadi salah satu kepingan kisah pelengkap. Kekompakan, persamaan nasib, persaingan, kebohongan dan cinta merupakan inti kisahnya.
Lewat tontonan ini kita pun dapat memperluas khazanah musik era ‘60-an, tanpa kehadiran lagu-lagu The Beatles dan The Rolling Stones. Kumpulan lagu yang tersaji sepanjang cerita merupakan sumber kekuatan The Boat that Rocked.

Putusan: Yang mengaku penggemar musik dan pengagum budaya Inggris, wajib menonton film yang di kawasan Amerika Utara berjudul Pirate Radio ini.
 
Read more

FROST/NIXON


Sutradara: Ron Howard | Tahun: 2008

Siapa bilang wawancara politik akan membosankan bila dijadikan film? Sebagai satu-satunya presiden AS (Amerika Serikat) yang mengundurkan diri –akibat kasus Watergate sosok Richard Nixon (Frank Langella) menarik untuk diketahui. Termasuk wawancara eksklusifnya di tahun 1977 “berhadapan” dengan David Frost (Michael Sheen), pemandu acara talkshow asal Inggris yang rela mempertaruhkan kariernya demi mendapat pengakuan bersalah kepada rakyat Amerika dari mantan presiden itu.
Nixon setuju untuk melakukan wawancara dengan kontrak senilai $600,000. Guna mewujudkan program spesial TV itu, Frost dan produsernya John Birt menghadapi banyak tantangan. Selain harus menyiapkan materi skandal Watergate yang dibantu oleh dua investigator yaitu Bob Zelnick (Oliver Platt) dan James Reston Jr. (Sam Rockwell), dia pun mesti berjuang mencari sponsor agar program tersebut bisa ditayangkan secara nasional.
Ketika wawancara mulai berlangsung, ketegangan dan teror semakin meningkat. Tentu orang-orang terdekat Nixon tidak rela bila sang mantan presiden dipermalukan di depan jutaan pemirsa TV. Dipimpin Jack Brennan (Kevin Bacon) sebagai orang kepercayaannya, tim Nixon kerap mengintervensi proses rekaman wawancara. Bahkan empat hari sebelum tahap final, Nixon menelepon Frost di kamar hotelnya. Nixon mengatakan bahwa dirinya akan melakukan apapun untuk memenangkan “pertarungan wawancara” itu dan karier Frost akan tamat.
Dengan bekal investigatif yang kuat, Frost berhasil memojokkan posisi Nixon yang akhirnya mengakui keterlibatan beserta penyalahgunaan kekuasaannya sebagai presiden dalam skandal Watergate. Dituliskan di akhir film ini bahwa sosok Richard Nixon tetap kontroversial hingga kematiannya di tahun 1994, meninggalkan warisan berupa istilah yang terkenal sampai sekarang, bahwa akhiran GATE hampir selalu disematkan di setiap skandal politik.

ULASAN

APA KATA ROOMEY?
Seperti menyaksikan pertandingan tinju tapi tanpa darah bercucuran. Alur menuju klimaks cerita dibangun secara bertahap. Persiapan wawancara, susahnya mencari sponsor, konflik internal yang memuncak, perang mental beserta ancaman dari pihak lawan dan pengungkapan rasa bersalah seseorang, semua digambarkan secara bagus. Selain itu, kekuatan media televisi yang mampu menghancurkan citra sosok kondang juga dipaparkan dengan baik.
Mungkin di Indonesia, wawancara yang di dekade 70-an sangat fenomenal ini tidak begitu terkenal. Namun demikian, pantas dijadikan acuan bahwa sebetulnya para pejabat yang pernah melakukan “kejahatan” berlandaskan kekuasaan bisa diadili. Jika hukuman penjara sulit dilaksanakan, setidaknya pengakuan bersalah kepada publik melalui televisi mungkin bisa mengobati kekecewaan masyarakat atas rasa keadilan.


Putusan: Layak ditonton bagi yang ingin memahami seluk-beluk wawancara dengan sosok berpengaruh kuat. Cocok pula sebagai bahan studi para mahasiswa, jurnalis, dan politikus.
Read more

IN THE LOOP

 Sutradara: Armando Iannucci|   Tahun: 2009


Antara Downing Street 10-London dan White House-Washington. Dua kepala negara dari "negara kuat" AS (Amerika Serikat) dan Inggris, ingin segera menyerang negara di kawasan Timur Tengah (haha, situasi yang hampir sama dengan invasi Irak di tahun 2003). Namun tidak semua pihak di kedua negara setuju bahwa perang adalah jalan terbaik. Termasuk Menlu (Menteri Luar Negeri) Inggris untuk pembangunan internasional, Simon Foster. Sementara di AS pun ada pihak dalam pemerintahan yang menolak perang, antara lain Jenderal George Miller dan asisten urusan diplomasi, Karen Clarke.

Secara tidak sengaja dalam suatu wawancara, menlu Simon Foster memberi pernyataan bahwa peluang perang "sulit diprediksi". Sontak, beragam reaksi bermunculan dan keadaan menjadi kacau. Dari sinilah peran dominan kepala komunikasi pemerintah Inggris yang terkenal galak, Malcolm Tucker, mulai terasa. Tak lama kemudian, delegasi Inggris datang ke Washington untuk mendiskusikan kemungkinan tentang perang. Kebimbangan sikap menlu Inggris terombang-ambing di antara kepentingan yang pro dan anti-perang. Posisinya di negeri sendiri juga terancam karena isu dirinya yang dianggap tidak becus menangani masalah di daerah konstituennya.
Menjelang pengesahan resolusi disetujui atau tidak perang di markas besar PBB, New York, segala cara dilakukan pihak pro-perang demi mewujudkan tujuan mereka untuk menyerang negara di Timur Tengah itu. Termasuk dengan meng-edit secara asal-asalan dokumen yang berasal dari seorang intelijen fiktif. Bayangkan, nama saramannya saja The Iceman (seperti nama superhero). Situasi semakin memanas dan konflik pun tak terhindarkan.


Read more

ONCE

Sutradara: John Carney | Tahun: 2006


Cinta memang sering dijadikan landasan cerita sebuah film, tapi jangan buru-buru mengambil kesimpulan bahwa Once tidak akan ditonton oleh "anak metal" sekalipun. Dengan deretan soundtrack kelas wahid, ternyata banyak cara untuk sekedar bilang I love you.

Graffton Street, Dublin dipilih sebagai latar adegan pembuka film ini. Seorang pemuda tanpa nama (Glen Hansard) mencoba peruntungan dengan mengamen di jalanan. Sampai akhirnya seorang wanita imigran asal Ceko (Markéta Irglová) menghampirinya karena tertarik akan musik yang dibawakan. Belakangan diketahui ternyata wanita ini juga bisa memainkan alat musik piano. Dari situlah semuanya berawal dan semakin intens mereka bertemu.

Memang agak tertebak alurnya di sesi ini. Jelas, mereka akan mencoba buat lagu bersama. Tetapi penonton nggak akan tahu betapa hebatnya musikalitas keduanya hingga mereka memutuskan untuk berkolaborasi. Pertama kali ide itu tercetus di sebuah toko alat musik. Dan reaksi kimiawi alias chemistry antara mereka pun mulai terpercik. Dibarengi tumbuhnya perasaan di antara kedua pemuja musik ini, keyakinan akan musik yang mereka mainkan bersama juga bertambah. Bermodalkan pinjaman uang dari bank (ternyata pemiliknya juga penggemar musik), mereka mengadu nasib baik untuk masuk studio rekaman. Akhir cerita menggantung, jadi terserah interpretasi kita !


ULASAN

APA KATA DEKEPIKS?
Jelas ini masuk dalam daftar film-wajib-tonton gw. Sebuah film romantis tanpa menjadi romantis, dan sebuah film penuh musik tanpa berusaha untuk menjadi musikal. Ini kisah persahabatan dua manusia tanpa akhir yang sempurna bagi mereka berdua, tapi cukup sempurna bagi kehidupan masing-masing. Dengan hanya bermodalkan 2 buah digital camcorder dan 100.000 euro serta pencapaian artistik yang jauh dari kesan glamor, jelas John Carney ingin membuat film ini mengalir se-natural mungkin dan dekat dengan penonton. Dan itu berhasil, apalagi semua adegan musik diambil secara langsung, untuk mendapatkan emosi yang disampaikan. Komunikasi yang terkesan ringan dan penyampaian yang jujur adalah salah satu alasan kenapa film ini banyak mendapat pengakuan positif dari berbagai kritikus film dunia. Selain lagu "maut" Falling Slowly, ada banyak lagu bagus yang bertebaran di sepanjang film.

APA KATA ROOMEY?
Gw bisa tulis belasan lembar ulasan tentang kisah ini. Pria bule-ndeso berambut merah dengan wanita berwajah khas cantiknya aura Eropa Timur. Yang membuat begitu bermakna karena gaya tutur yang penuh ke-BIASA-an. Kameranya pun bukan standar film mahal dengan efek canggih. Ceritanya amat nyata nan sederhana meski cuma fiksi belaka. Bagai melodi kehidupan, ada senang dan kadang terenyuh. Cakap Inggris logat Irlandia semedok-medoknya, ditambah sekelumit bahasa Ceko menggugah gw untuk terus merekamnya dalam kepala. Tak ada adegan seks, ciuman pun absen tapi getar emosi antarmanusia tetap kuat terasa. For fuck's sake, this is brilliant !
Info Ekstra: Shandy Sondoro yang kita kenal sekarang...beberapa tahun lalu dia kurang lebih seperti tokoh pria film ini. Bermusik tanpa henti dari stasiun kereta bawah tanah, kafe, dan jalanan kota Berlin. Look at him now, a proud Indonesian (international) singer-songwriter. Never underestimate your dreams...they will come true if you want to!!!



Mengutip New York Times... "The formula is simple: two people, a few instruments, 88 minutes and not a single false note".






Read more